Angkatan "Tersolid" STISIP Mbojo Reuni di Kalaki Beach - Kabar Bima

Angkatan "Tersolid" STISIP Mbojo Reuni di Kalaki Beach

Bima, KB.- Setelah lebih dari 18 tahun berpisah, alumni Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISIP) Mbojo - Bima, khususnya angkatan ke-11 (1999), melakukan reuni di Kalaki Beach (Pantai Kalaki), Kabupaten Bima.


Sejumlah alumni angkatan "tersolid" dan "terkompak" sepanjang sejarah STISIP Mbojo hadir dalam pertemuan yang berlangsung Minggu (24/12/2017) tersebut. Datang juga beberapa petinggi dan dosen perguruan tinggi "politik dan pemerintahan" satu-satunya di Kota/Kabupaten Bima dan Dompu itu.


Di antaranya, tampak Ketua STISIP Mbojo era 1990-an Drs. Gufran, M.Si, Ketua STISIP Mbojo (yang baru) Drs. Mukhlis Ishaka, M.AP, serta salah satu dosen Tauhid, SE, M.AP. Sayangnya, salah satu dosen idola mahasiswa/mahasiswi kala itu Drs. Arif Sukirman, MH, tidak tampak di tengah-tengah pertemuan. Informasinya, pria yang akrab dengan panggilan dae Moa itu sedang sakit.

Sedangkan kalangan alumni, mereka datang dari berbagai penjuru dalam wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Mulai dari Kota dan Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu, hingga Sumbawa dan Kota Mataram.

Mereka adalah Dedy Damhudji dan Husnin (wakil Sumbawa), serta Sarwon Al Khan (wakil Dompu dan Mataram). Sementara dari Kota dan Kabupaten Bima, ada Mustika Rahmi, Ikbar, Syarif, Nasrullah, Syafran, Ida Royani, Hikmah Ekasari, Nurhasanah, Ida Rafnida (Lies) dan Muslimin.

Jumlah alumni angkatan 11 yang hadir masih terbatas dan belum mencapai kata ideal. Hal tersebut disebabkan benerapa hal. Salah satunya, mepetnya waktu pelaksanaan dari rencana kegiatan. Sehingga alumni yang berada di luar daerah (jauh) dan dalam daerah namun sibuk, tidak bisa hadir.

Selain itu, sebagian alumni tidak berhasil diajak berkomunikasi karena belum diperoleh nomor kontak personnya. Praktis mereka sama sekali tidak mengetahui adanya kegiatan reuni tersebut.

Bukan itu saja. Ada pula yang tidak dapat hadir karena sakit. Seperti salah satu inisiator reuni, Rusmiati (Ros) yang kini berdomisili di Jawa Timur, batal menghadiri reuni lantaran penyakit yang dideritanya sekian tahun terakhir kambuh.

Ke depan kegiatan yang sama akan dihelat dalam skala lebih besar dan luas (tidak hanya angkatan 11). Kegiatan sekarang pun sebenarnya tidak dibatasi. Alumni dari angkatan sebelum atau sesudah angkatan 11, juga boleh ikut. "Tapi tidak ada yang hadir, meskipun sudah kita beritahukan," jelas Ketua Panitia Reuni, Mustika Rahmi.

Tahun depan (2018), ada dua alternatif tempat reuninya. Kampus STISIP Mbojo, Kota Bima atau di Lakey Beach (Pantai Lakey), Kabupaten Dompu. Tinggal selanjutnya rencana tersebut difinalkan, berikut waktu pelaksanaannya.

Meski reuni yang berlangsung dari pagi hingga menjelang sore hari itu tidak dihadiri alumni seutuhnya, namun tidak mengurangi nilai silaturahmi antaralumni tersebut. Kesempatan itu benar-benar dimanfaatkan untuk melepas kangen, berbagi cerita, suka, duka dan pengalaman masing-masing. Bersenda gurau serta mereview kisah dan kenangan semasa-masa mahasiswa dulu.

Pola dan tingkah pun seolah-olah sedang masih menjadi mahasiswa/mahasiswi. Beberapa ungkapan kala itu diingat dan dilontarkan kembali. Tentu saja, hal itu mampu menghebohkan suasa dengan beberapa kali ledakan tertawa lepas.

"Apa sih cewek zaman sekarang? Diam-diam diri re hati lapangan," celetuk Syafran. "Ayo ingat, siapa yang punya istilah dan sering ucapkan itu," sambung pria yang akrab disapa Fran, mengundang tawa terbahak-bahak.

Disamping itu, silih berganti mencuat ungkapan-ungkapan yang membuat perut dikocok tawa. Belum lagi ulahnya yang ke-ABG-ABG-an. Main lompat di pinggir pantai sembari minta dipotret, pun selvi-selvian ala muda-mudi masa kini, hingga nyeletuk 'tak karuan'.

Namun begitu, apa yang dilakukan alumni STISIP Mbojo angkatan 11 itu, mendapat apresiasi Ketua STISIP era '90-an, Drs. Gufran, M.Si dan Ketua baru Mukhlis Ishaka, M.AP. Keduanya juga sama-sama mengakui bahwa alumni angkatan 11 adalah angkatan paling kompak dan solid.

Hingga sekarang, STISIP Mbojo sudah menamatkan mahasiswa dengan 37 angkatan. Februari 2018 akan mewisuda angkatan ke-38. "Memang angkatan 11 paling kompak," kata Mukhlis Ishaka alias Dae Leo.

Pengakuan yang sama juga disampaikan Gufran. Pria yang akrab disapa Pak Gefon itu berharap, hubungan dan komunikasi seperti ini, jangan sampai terputus. "Harus tetap dijaga, dipelihara dan ditingkatkan. Ini menarik sebagai contoh bagi angkatan yang lainnya," imbuh mantan ketua KPU kota Bima itu. (KB-01)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.