Program Jagung Antara BANJIR dan BENCANA - Kabar Bima

Program Jagung Antara BANJIR dan BENCANA

Oleh : Yasser Arafat, SH.  MH 

Di musim panen rakyat bergembira karena hasil jagung melimpah, di musim hujan rakyat menderita karena banjir melanda, semua harta benda hasil jagung sirna seketika. 

Ini bukan sekedar banjir tapi bencana lingkungan akibat kutukan penguasa semesta karena semua hutan babat belur. 

Hutan gundul, banjir gunung menguasai pemukiman, program jagung terus dibumikan sehingga hutan gundul, ini dampak dari arah kebijakan hanya melihat hutan sebagai sumber pendapatan petani dan tidak melakukan terobosan strategis lain sebagai alternatif mencegah hutan rusak.

Biaya pemulihan dan perbaikan pasca banjir lebih besar daripada biaya diperoleh hasil panen jagung, ini memerlukan tawaran solusi tepat guna dan tepat sasaran bahwa usaha peningkatan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan pendapatan petani tidak mesti memprioritas dari jagung tapi mungkin melalui perkebunan, persawahan dan sektor produktif lainnya. 

Program jagung di Kabupaten Bima dan Dompu menimbulkan problem akut di samping kerusakan alam dan lingkungan, tetapi juga menciptakan konflik sosial  seperti meningkatkan sengketa tanah, perkelahian  keluarga dan masyarakat karena masyarakat menggugat kembali tanah-tanah nenek moyang yang pernah dijual, dikuasai karena temuan, maupun tukar menukar dan lain-lain. 

Saya mengambil contoh kerusakan hutan dan lingkungan di Kecamatan Donggo dan Soromandi akibat perluasan area pertanian jagung sepanjang mata memandang hutan gundul karena semua tanaman pohon di tebang secara leluasa dan liar tampa pengawasan aparat pemerintah setempat atau melaporkan kepada pemerintah daerah agar segera direspon untuk mengambil langkah-langkah strategis mencegah kerusakan hutan. 

Program Jagung di Kabupaten Dompu dan khusus di Kabupaten Bima berpotensi mengancam keselamatan rakyat karena kerusakan hutan dan lingkungan tampak di depan mata. 

Di Kecamatan Donggo dan Soromandi 10 tahun ke depan terancam kepunahan ternak karena sempit dan terbatasnya area peternakan, tahun ini mungkin ada ribuan ternak mati karena kelaparan dan ribuan ternak dijual dengan harga murah karena kurus kekurangan pakan. 

Bahaya kerusakan lingkungan dan kepunahan ternak di Kecamatan Donggo dan Soromandi dan kecamatan lain harus segera diatensi serius oleh pemerintah setempat melalui koordinasi dengan pemerintah Kabupaten sebagai bahan laporan dan evaluasi program jagung. 

Di akhir tulisan ini penulis berharap kepada semua pihak agar sadar dan ikut berperan menjaga kelangsungan hutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan hidup, karena ketergantungan manusia pada hutan sangat besar. 

Adapun langkah strategis yang harus diambil pemerintah daerah, kecamatan, dan desa segera melakukan penataan dan pemetaan zonasi lahan pertanian, perkebunan dan area peternakan untuk menjaga kelangsungan sinergi program pembangunan daerah. (***)

Penulis: (Dosen STKIP Bima)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.