IMM Kota Mataram Desak Jokowi-JK Turun Tahta - Kabar Bima

IMM Kota Mataram Desak Jokowi-JK Turun Tahta

Mataram, KB.- Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) NTB, Rabu (19/09/2018) pagi berdemonstrasi di depan gedung DPRD Provinsi NTB Jalan Udayana No. 11 Mataram dengan minggiring kader IMM menyampaikan kegagalan kepemimpinan Jokowi-JK, dan mendesak Jokowi-JK turun tahta.

Massa aksi star  dari kampus Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT) menuju bundaran Bank Indonesia (BI) sambil berorasi dan membentangkan spanduk yang dipimpin  Amal Abrar (korlap 1), Kur'an Manjaya (korlap 2), dan Syarif Hidayat selaku Kordum.

Dewan Pimpinan Daerah IMM, Supratman,  menjadi Imam untuk melaksanakan Sholat Jenazah atas matinya rejim Jokowi-JK. Keranda mayat pun dijadikan sebagi teatrikal dalam aksi itu.

Dalam orasinya, Amal Abrar mengatakan, tentang bagaimana mengevaluasi pemerintahan Jokowi-JK  ketika program nawacitanya itu tidak bisa diwujudkan. Abrar juga menuding bahwa pemerintahan Jokowi-JK telah gagal membangun bangsa ini, dan dianggap rejimnya sudah mati, dengan dibawanya keranda mayat oleh massa aksi.

"Indonesia stok berasnya  sudah 2 Juta ton. Padahal dalam aturan, ketika angka kebutuhan beras mencapai 1-1,5 juta ton, maka negara tidak boleh mengimpor beras. Tapi yang terjadi adalah
sebaliknya.  Indonesia juga memiliki garis pantai yang sangat panjang, hari ini kita impor garam dari negara lain sebesar 3,7 Juta ton. Kemudian 80% komponen pakan
ternak di Impor dari Argentina dan Brazil," bebernya Amal Abrar.

"Lanjutnya, kita telah mengetahui bersama bahwa hutang negara Indonesia sudah mencapai Rp. 4.849 Triliun atau US$. 352,2 Milyar jika dihitung menggunakan kurs Rp. 13.769. Ketika dihitung dengan kurs Rp. 14.900 maka jumlah hutang kita sebesar Rp. 5.247 Triliun," kata Amal Abrar.


Dalam aksi tersebut massa aksi menyampaikan enam tuntutan dengan melihat kondisi ekonomi di era pemerintah Jokowi-JK sedang tidak baik.  Pertama perkuat ekonomi Negara, kedua hentikan impor dan wujudkan kedaulatan pangan, ketiga menjaga harga kebutuhan pokok agar kualitas hidup masyarakat terjaga.


"Selanjutnya, yang keempat turunkan harga BBM, kelima evaluasi program nawacita Jokowi-JK," sebutnya.

Pada poin terakhir tuntutan, massa aksi mendesak agar Jokowo- JK segera turun tahta, karena dianggap tidak mampu mengstabilkan perekonimian keuangan negara terutama dengan adanya nilai tukar rupiah yang melemah atas dolar saat ini. 

"Jika Dolar masih me-Raja, maka kami mendesak Jokowi harus turun tahta,"desak Abrar saat menyampikan tuntutan.

Massa aksi kemudian membakar keranda mayat sebagai isyarat matinya pemerintahan Jokowi-JK. Dalam aksi tersebut, massa aksi sempat bercekcok dengan aparat keamanan setelah massa membakar keranda mayat. Baru beberapa menit api menyala, pihak kepolisian langsung memadamkannya dengan water canon. Massa  aksi kemudian bubar dengan sendirinya. (KB-03)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.