BIMA RAMAH, CANTIK DI TEKS, BURUK DI KONTEKS - Kabar Bima

BIMA RAMAH, CANTIK DI TEKS, BURUK DI KONTEKS

ISLAMUDDIN, WARTAWAN DI NTB


Bima Ramah, sesejuk rupanya. Seindah namanya. Indah Dhamayanti Putri. Bupati perempuan pertama di tanah Bumi Gora.

Gagasannya indah. Seindah barisan pertama namanya. Dalam imajinasi saya, konsep Bima Ramah sungguh bahenol. Bakal menari indah di Dana Mbari. Tanah yang meninggalkan jejak sejarah dan perjuangan.

Imajinasi saya juga sempat memuji. Ide Bima Ramah sangat menawan dan bakal meledak. Jadi lompatan besar untuk Bima. Bakal berhasil di tangan seorang perempuan. Istri dari Almarhum anak raja: Ferry Zulkarnain, mantan bupati Bima dua periode.

Dengan pengalaman mendampingi mendiang suaminya, Dae Dinda (sapaan akrab Bupati Bima) harusnya kaya ide dan gagasan. Bisa mendadani Bima Ramah dengan cantik. Merealisasikan Bima Ramah dengan wow.

Sejak diletupkan saat kampanye, banyak yang berharap konsep Bima Ramah bisa menyejukkan. Menyejukan hati, pikiran, juga pilihan kebijakan pemerintah.

Saya masih ingat. Masih segar. Dae Dinda mengobral konsep Bima Ramah. Tepatnya pada debat Paslon 26 Oktober 2015.

Relgius; mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertakwa, istiqomah menjalankan syariat islam, berikhtiar di jalan yang benar, dan membangun karakter islami dalam bermasyarakat.

Aman; memberikan rasa aman bagi tamu yang datang berinsvestasi, sehingga bisa membuka lapangan kerja. Seluas mungkin bagi masyarakat. Menegakkan keamanan dan mengamankan proses serta hasil pembangunan, dan supremasi hukum.

Makmur; bagaimana kedepan berkomitmen membangun ekonomi kreatif, inovatif, dan kompetitif, serta memanfaatkan potensi yang ada untuk masyarakat yang makmur, berkeadilan sosial dalam menyejahterakan Bima secara luas.

Handal; menciptakan birokrasi dan tenaga yang handal yang mampu memberikan pelayanan sebaik mungkin kepada lapisan masyarakat. Mampu bekerja secara amanah, mampu memenuhi harapan masyarakat, sehingga bisa mewujudkan Bima yang cerdas, sehat, dan islami.

Sekilas, konsep Bima Ramah itu sungguh aduhai. Ibarat perempuan bodi gitar Spanyol dengan penampilan menggoda. Bayangkan, betapa hebatnya konsep Bima Ramah. Bila terealisasi, Bima bakal keluar dari zona-zona merah yang terus menyelimutinya.

Tetapi konsep yang gagah itu belum mampu terealisasi dengan baik. Masih sebatas gagah di teks, namun buruk di konteks. Sajian religius belum nampak dengan jelas di Bima. Tunjangan bagi guru ngaji masih kecil. Begitu juga muadzin atau bilal. Tunjangannya tak cukup untuk membayar listrik satu bulan. Mesjid-mesjid juga masih banyak yang reot. Dandanannya sudah rapuh. Dindingnya sudah retak.

Lalu, bagaimana membangun karakter yang islami bila perhatian belum maksimal. Membangun karakter tak tak cukup dengan kata-kata. Tak cukup pula dengan sebaris motivasi. Bupati sebagai pencetus ide harus memberikan perhatian khusus. Misalkan dengan menaikkan tunjangan bagi guru ngaji dan lainnya.

Aman yang dijanjikan belum terlihat. Garapan wisata masih sepi kunjungan. Pembunuhan masih menghiasi. Perkelahian antar kampung masih kerap muncul. Investor khawatir. Keamanan belum terjamin. Takut usahanya terganggung.

Kemasan aman yang disuguhkan pemerintah tak mampu meredam semua gejolak itu. Itu sebenarnya bukan salah konsep, bagi saya itu salah penerapan. Anak buahnya tidak bekerja maksimal. Memberikan pemahaman yang sejuk kepada masyarakat. Kurang dekat dengan masyarakat. Datang ketika masalah muncul. Setelah itu hilang. Lalu datang bila masalah muncul lagi.

Hematnya, pemerintah harus mendekat. Lebih mendekat lagi dengan masyarakat. Memadukan konsep masyarakat awam dengan kebijakan yang merakyat. Selama ini, pilihan-pilihan kebijakan setengahnya tak sesuai harapan.

Makmur yang didambakan masih samar-samar. Arah kebijakan yang merakyat belum memuaskan. Banyak kebijakan yang tak cocok dengan harapan. Misalkan bantuan bibit bawang merah. Hasilnya nihil. Padahal, pemerintah pusat menggelontorkan anggaran ratusan miliar.

Bawang merah harusnya bisa diandalkan sebagai komoditi yang dapat membangkitkan ekonomi kerakyatan. Tetapi pengelolaan yang kurang bagus, bantuan itu seakan sia-sia. Tak punya dampak positif. Justru meninggalkan masalah. Kasusnya bawang itu sedang bertunas di KPK, juga sedang tumbuh di Polda NTB.

Jagung juga bermasalah. Bantuan bibit yang diserahkan kepada para petani tak bermutu. Petani ramai-ramai menolak. Bibit hanya bungkusannya yang bagus, isinya rusak. Cocok untuk pakan ayam. Tak bisa tumbuh. Bibitnya berjamur. Akhirnya petani beli sendiri. Pakai uang sendiri. Bantuan sia-sia, juga gagal.

Dari aspek ekonomi, konsep yang ditawarkan baru belajar berjalan. Masih merangkak serta membingungkan. Belum ada perubahan yang membanggakan. Rakyat masih berpenghasilan biasa-biasa saja.

Jual jagung saja masih di Dompu. Padahal Bima tempat menanam, memeliharanya, dan memanen. Tapi Dompu yang nikmati hasilnya. Pajak penjualan masuk kantong PAD dana Ngahi Rawi Pahu. Poin-poin kecil semacam ini harus dilirik, agar perputaran rupiah di Bima lebih kencang. Kantong rakyat pun akan tebal.

Secara utuh, Bima Ramah belum bisa disebut menggembirakan. Belum ada formula yang patut dipuja puji. Dan masyarakat yang cerdas tak akan diam melihat kegagalan-kegagalan  di depan matanya. Sehingga banyak kritikan-kritikan, yang sebenarnya masukan yang bagus bagi pemerintah. Saran untuk memperbaiki lubang-lubang kesalahan pada kebijakannya.

Kritikan halus, pedas, dan pahit berseliweran di aneka kanvas. Ada di media sosial. Ada di koran, media online. Ada juga yang mengemas dengan unjukrasa.

Kadang-kadang kritik memang terasa pedas. Seperti celaan, terutama bila ditujukan kepada orang yang tahu bahwa dirinya salah, atau tahu bahwa dia harus berubah.

Sebenarnya tak perlu stres bila menerima kritik. Lebih baik belajar mengelolanya dengan tepat. Ketika kritik datang, tak perlu juga memerahkan telinga. Kritik itu harus dilihat sebagai tanda cinta. Anggap saja cara sederhana rakyat menyayangi pemimpinnya.

Sebaliknya, jangan suka memelihara pujian. Mendengar pujian memang jauh lebih mudah daripada menerima kritikan. Kritik dan sindiran halus orang-orang tak harus emosi meninggi. Kritik sepedas apapun bisa berubah manis, asal kita tahu cara meraciknya.

Kritik itu harus dipahami dengan jujur. Keras tapi rasanya manis. Namun jika dibandingkan dengan orang yang tidak memberikan komentar sama sekali, keberadaan si pengkritik jauh lebih berguna. Paling tidak, kritikannya bisa memberi pandangan berbeda terhadap hasil pekerjaan yang menurut kita sudah baik. (*)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.