Direktur RS Dr Agung, Klarifikasi Dugaan Penipuan Pasien - Kabar Bima

Direktur RS Dr Agung, Klarifikasi Dugaan Penipuan Pasien

Kota Bima, KB.- Dugaan penipuan terhadap pasien pencabut Alat Kontrasepsi (IUD), beberapa hari lalu, yang cukup menarik perhatian publik terhadap Rumah Sakit Dr Agung,  kini menuai titik terang. Yakni, antara pasien IUD dan pihak rumah sakit, sudah bertemu dan menyelesaikan secara prosedural.

Direktur Rumah Sakit Dr Agung, drg. Hj. Siti Hadjar Joenoes, menjelaskan kepada wartawan kabarbima.com, terkait polemik tersebut, Jum'at (22/02/2019), di ruang kerjanya.

"Kalau persoalan pasien yang cabut alat IUD kemarin itu, buka insiden. Itu hanya  kesalapahaman. Ini masalah komunikasi saja sebenarnya, gak ada masalah apa-apa. Sebenarnya, kalau dijelaskan lebih detail. Dia pun akan mengerti. Bahwa, sebuah Rumah Sakit itu adalah institusi. Dan didalamnya ada aturan-aturan internal yang mesti dijalankan, pun ditaati, yang merupakan prosedurnya," ungkap Direktur yang dikenal ramah dan baik itu.
Dilanjutnya, dalam aturan-aturan internal rumah sakit, atau instansi kesehatan, semuanya diatur, terlebih yang berkaitan dengan tindakan dan keputusan.

"Dalam aturan internal itu dijelaskan semua. Bagaimana seorang Staff harus bertindak, atau pun mengambil keputusan. Dan apapun yang jadi tindakan juga putusan Staff kami, tidak terlepas dari keputusan melalui prosedur yang berlaku. Yaitu, dari staff ke manajamen, setelah itu ditinjau dan dipertimbangkan manajamen, lalu diputuskan direktur rumah sakit. Setelah direktur memutuskan, dikembalikan ke staff yang akan melaksanakan putusan tersebut," jelasnya pada wartawan kabarbima.com.

Dia mengatakan, tindakan demikian, bukanlah keputusan sewenang-wenang. Melainkan, melalui prosedur yang ditetapkan, atau berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP).

"Seperti itulah tindakan yang kita ambil kemarin pada pasien itu. Bukan menaik turunkan biaya begitu saja, tapi kita melalui prosedur yang berlaku. Dan kenapa bisa turun biayanya, karena itu bentuk pertimbangan rumah sakit untuk pasien. Dan pertimbangan itu, berdasarkan dasar-dasar yang jelas. Bukan hanya langsung dicoret-coret begitu saja. Dan itu merupakan fungsi sosial rumah sakit. Jadi bukan berarti orang tidak punya uang, langsung kita hantam aja atau tidak menyuruh pulang pasiennya, nggak ada kayak gitu," terang wanita yang mencerminkan kesolehannya itu.

Ia menambahkan, bahwa rumah sakit pun mempunyai tanggungjawab dan fungsi sosial untuk pertimbangan keberadaan pasien. Dalam hal itu, seperti halnya pasien yang memiliki latarbelakang kurang mampu, akan ada pertimbangan sosial dari pihak rumah sakit, terkait biaya pengobatannya.

"Pertimbangan sosialnya kita tetap ada untuk pasien. Dan seperti apa proses pengurangan biayanya? Itu kita kurangi dari jasa sarananya. Karena itulah biaya yang bisa kita kurangi. Kalau biaya dokternya nggak mungkin kita bisa kurangi, karena orangnya sudah capek-capek. Kecuali, ada kebijakan dari dokter yang bersangkutan. Terlebih lagi obat, nggak mungkin saya potong biaya obatnya, karena obat-obatan kita belanja. Gimana kita bisa kurangi harganya," tutur wanita ramah itu.

Sementara soal oksigen yang dipermasalahkan juga saat itu. Ia menjelaskan, bahwa penggunaan oksigen itu saat tindakan operasi dilakukan. "Pemakaian oksigen itu satu paket dengan paket operasi. Dan itu penggunaannya saat tindakan operasi. Harus pake oksigen diruang operasi, karena itu salah satu pengamanan," ujarnya.

Diakuinya, kendati demikian, bukanlah pertamakalinya. Namun, sebelumnya, pun ada pasien-pasien yang komplain terkait tinggi rendahnya biaya pengobatan.

"Kalau yang seperti ini sudah sering terjadi. Kalau biayanya mereka katakan udah mahal, mereka pasti komplain. Dan kita tetap selesaikan baik-baik dan bijaksana, secara kekeluargaan. Karena itu tadi, rumah sakit juga punya kebijakan sosial dan fungsi sosialnya untuk masyarakat atau pasien," bebernya.

Ia pun menjawab pertanyaan pasien sbelumnya terkait IUD yang akan dicabut itu. Kata dia, pencabutan IUD memang mudah, tapi ada IUD yang tidak mudah dicabut dan dibutuhkan operasi ringan dan bahkan berat. "Untuk mengeluarkan IUD memang tidak membutuhkan biaya yang banyak, tapi IUD yang macam apa dulu? Sedangkan IUD pasien kemarin itu, itu yang sudah tidak ada lagi ujungnya, tidak lagi kelihatan talinya itu loh. Tidak bisa dilihat oleh dokter, dikeker sama dokter pun nggak bisa, jadi harus dioperasi, baru bisa dilihat dan dicari. Untungnya dia kemarin belum kena ke perutnya. Kalau sudah kena perut itu, operasi besar yang diambil. Alhamdulillah masih dibawah IUDnya, seharusnya pasien itu bisa bersyukur kepada Allah, karena masih bisa ketemu dibawah IUD itu," tutupnya.

Saat ditemui Wartawan kabarbima.com, Direktur Rumah Sakit Dr Agung, drg. Hj. Siti Hadjar Joenoes, didampingi tiga pegawainya. Diantaranya, Kabid Manajemen Komplain, Evy Sulidyati Sufaidin, S. Sos, Kasubag Umum dan Kepegawaian, Listirahaeni, ST dan Kepala Keperawatan, Indrati Harjani, SKM.

Untuk diketahui publik, pemasangan mesh hernia untuk pasien, memang harus dibeli terlebih dahulu oleh pasien, setelah itu, bidan akan pasangkan pada pasien. Dan pasien umum, memang semuanya harus beli. (KB-07)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.