RS Dr Agung Bima Coba Tipu Pasien, "Dengan Cara Memeras" - Kabar Bima

RS Dr Agung Bima Coba Tipu Pasien, "Dengan Cara Memeras"

Kota Bima, KB.- Tidak terima dengan tindakan pihak Rumah Sakit dr Agung Bima yang dinilai memeras dan menipu, Elly Martlina, Pasien Umum, beberkan tindakan tak terpuji itu, Selasa (19/02/2019).

Elly Martlina
Ia menceritakan kronologis awal masuknya di rumah sakit tersebut. Semula dirinya ingin memeriksa Intrauterine Device (IUD) atau alat kontrasepsi saat itu.

"Waktu pertama kali masuk saya kan periksa IUD. Dan ternyata IUDnya turun, darah saya keluar terus. Lalu saya minta lepas IUDnya, agar darah itu tidak keluar terus," ungkap Elly pada wartawan kabarbima.com, saat dijumpai depan halaman RS dr Agung.

Ia melanjutkan, kendati demikian, dirinya disarankan untuk menemui seorang asisten langsung dr Agung. Dalam hal itu, untuk membicarakan tindakan apa yang mesti ia tempuh selanjutnya dengan keberadaannya demikian.

"Nah akibat dari kejadian itu, saya disarankan untuk menemui asisten dr Agung. Yakni untuk menanyakan berapa biaya untuk pengobatan saya atau biaya operasi dalam keadaan saya yang seperti saat itu. Saya tanya dulu rincian biayanya, agar saya bisa siapin uangnya berapa gitu. Lalu saya disuruh sama asisten dr Agung itu, untuk membawa uang sebanyak Rp. 3 Juta lebih terlebih dahulu. Jangan bawa uang pas banget, kata dia gitu sama saya," beber perempuan bertutur lembut itu.

Dia mengaku, saat kejadian itu, yakni ia diintruksikan untuk membawa sejumlah uang tersebut, didampingi seorang suaminya, M Hanafi.

"Dan waktu saya disuruh bawah uang sebanyak itu, ada juga suami saya yang dengar, yang nyaksiin langsung apa yang pihak rumah sakit itu perintahkan ke saya, Paket operasi itu, Rp. 1 Juta setengah, tapi saya disuruh bawa uang sebanyak Rp. 3 Juta lebih," tandasnya.

Ketika Elly, pasien umum RS dr Agung itu, masuk kembali setelah mengetahui berapa jumlah yang mesti disiapkannya. Yaitu pada senin (18/02/2019), saat itulah awal dari tindakan tak terpuji, yang mencoba untuk memeras dan menipu dirinya.

"Akhirnya pas saya masuk kembali waktu hari senin kemarin ini, saya disuruh puasa, saya masuk diruang Unit Gawat Darurat (UGD), dan saya diinfus diruang itu. Tapi saat itu, saya tidak dipasangin penyaluran untuk buanga air kecil (pipis). Setelah itu saya naik keatas, dan disuruhlah nebus obat buat saluran hernia. Nebus obat, infus dan lain-lain. Pokoknya banyak, sampai Rp. 460 Ribu. Selesai itu, lalu saya dipasanginlah yang buat hernia itu. Dan waktu jam setengah tiga saat itu, atau jam dua lewatlah saya masuk ke ruangan operasi. Yaitu, operasi kecil, karena cuma cabut ayudi aja. Tindakan operasi itu tidak sampai 10 menit lamanya. Tapi memang di USG dulu, ada juga dr dan timnya kurang lebih 6 oranglah saat itu, Saat operasi saya tidak menggunakan pemasangan oksigen, saya cuma dipasang model yang seperti dijepit gitu. Sama untuk tensi darah. Dan diinfus suruh baal atau yang biasa kita lihat pemasangannya mulai dari perut sampai ke kaki. Cuma itu aja. Setelah itu, gak lama saya dipindahin," bebernya lagi.

Saat dioperasi dirinya tidak memakai oksigen. Namun, kenapa saat diperlihatkan rincian pembayaran biaya tersebut, muncul yang lainnya, salah satunya rincian oksigen itu.

"Nah rincian pembayaran yang pertama dikeluarkan itu, terdapat juga oksigen, visit dan lain-lain. Padahal itu, tidak saya gunakan bahan-bahan atau apa yang jadi rincian pembayaran itu.
Saya dalam rincian itu, dimasukin juga, kalau saya divisit sama dokter ketut, padahal saya sama sekali tidam merasa divisit dokter ketut. Kecuali dengan dokter tri, memang ia," sebutnya.

Sementara biaya pertama yang diperlihatkan, rinciannya itu sebanyak Rp. 7 Juta lebih awalnya. Setelah dikomplain, sampai berlangsung beberapa kali dilakukan, akhirnya, turun hingga Rp. 6 Juta lebih. 

"Saat itu, mereka datang bilang biaya Rumah Sakitnya sekian tersebut, kita langsung pertanyakan, kenapa bisa sampai sebanyak itu biayanya, sedangkan saya juga tidak lama disini, cuma satu malam, dan saya pun hanya menggunakan fasilitas pengobatan seperti apa yang saya ceritakan tadi. tapi setelah itu, dia pergi dan datang lagi. Lalu, pembayaran biaya RS untuk saya tadi, diturunin, hingga menjadi sekian seperti yang saya ceritakan awalnya, saya tidak sakit apa-apa, saya hanya datang buka alat KB, itu aja," ungkapnya.

Ia tegaskan, terkait masalah biaya pembayaran tersebut, tidak jadi masalah baginya. Hanya saja, gunakan transparansi yang benar dan tidak tercium aroma-aroma tidak seperti demikian.

"Persoalan biaya nggak jadi masalah kalau buat saya, mau biaya Rp. 10 Juta pun tetap saya bayar. Tapi nggak kayak gini caranya, mestinya harus benar-benar ada transparansi pembayaran yang benar. Kalau kayak gini, kita merasa ditipu oleh pihak rumah sakit ini. Jadi disini, kita merasa ditipu dan mau diperas oleh pihak Rumah Sakit. Masa setelah mereka rembuk karena saya dan keluarga protes terkait itu, biayanya dikurangin, bahkan turun hingga Rp. Rp 1 Juta itu. Besar indikasinya, bahwa mereka mau nipu saya dan keluarga. Mereka mau peras saya,"tudingnya.

Akibat dari kejadian itu, saya ngotot aja gak mau bayar. Karena saya merasa, saya mau ditipu. Akhirnya, saya disuruhlah datang besok pagi lagi. Kan aneh kalau kayak gini pak," tegasnya.

Sementara, pelayanan yang mestinya ia dapatkan berbeda dengan pasien BPJS, dalam artian pelayanan VIP. Namun, ia disodorkan dengan model pelayanan yang dinilai tidak setimpal sebanyak apa yang dirinya bayar untuk pasien umum dengan pengambilan ruangan VIP I.

"Fasilitas pasien umum, yakni VIP I yang mestinya berbeda dengan pasien BPJS, malah saya katakan lebih parah dari itu. Baik dari fasilitas kamar maupun makanan yang disodoran kepada saya. Saya pasien umum, bagian VIP I, malah pelayanannya seperti itu. Lalu, mirisnya pembayaran segede gitu. Gimana saya tidak merasa demikian, kalau nyatanya seperti itu. Malam saya tidak dikontrol. Padahal pasien umum, dimana-manakan mestinya berbedalah sama pasien BPJS. Belum lagi, TV nggak nyala, AC juga gak bisa dipakai. Fasilitas apa coba yang bisa dipakai dan terlihat beda dengan BPJS, saya disini, bayar pasien bagian umum, dan kamar beserta fasilitas yang harus saya bayar dalam waktu satu malam itu hampir Rp. 600 Ribu. Masa iya, fasilitasnya kayak gitu," bebernya.

Ia tambahkan, waktu dirinya meminta pulang, yakni sudah waktunya untuk itu. Namun, ia tidak diizinkan beranjak dari tempat tersebut.

"Saat saya mau pulang aja, ditahan-tahan sama pihak rumah sakit. Bidan saat itu tidak suruh saya pulang, padahal sudah waktunya pulang, sesuai dengan apa yang diberitahukan sebelumnya. Tapi ini malah ditahan-tahan, hingga lewat berapa jam lamanya itu," pungkasnya.

Sementara itu, pihak Rumah Sakit dr Agung Bima, Kepala Ruanganan Kebidanan, Ramlah Amd Keb, atau yang bersangkutan langsung dengan Elly saat itu, yang coba dimintai keterangannya, tidak berani berkomentar banyak. Karenna menurutnya, pada RS tersebut, ada manajemennya, walau yang sempat cekcok dengan Elly dan keluarga saat itu, adalah yang dimaksud.

"Saya tidak berani kasi konfirmasi, karena disini ada manajemen. Silahkan ketemu sama manajemennya besok pagi," singkatnya. (KB-07)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.