Kepemimpian yang Gagal di Provinsi NTB - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Kepemimpian yang Gagal di Provinsi NTB

Oleh : Gufran Hanuar 

Gegap gempita tentang meretas kemiskinan menjadi salah satu teriakan bagi para aktivis sosial dan para politisi di negeri ini, pada momentum-momentum politik (Pileg, Pilkada, Dll) para politisi berteriak lantang untuk menuntaskan persoalan kesenjangan dan kemiskinan.
Teriakan itu hanyalah pemanis bibir dikala meraka (Politisi) melakukan kampanye, dengan gagah dan percaya diri yang tinggi bahwa mereka dikala menang mampu meretas kesenjangan dan kemiskinan tersebut, namun kenyataannya kesenjangan dan kemiskinan adalah tetap menjadi virus yang tidak ditemukan obatnya oleh para pemegang kekuasaan.

Sama halnya dengan Provinsi NTB yang tingkat kesenjangan dan kemiskinanya masih dibilang tinggi sebesar 19,73% menurut Badan Pusat Statistik (BPS) NTB tahun 2011 dan peningkatan ekonomi Makro hanya 1,62% per agustus 2017, ini tidak sebandingan dengan harapan rakyat NTB dalam meningkatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidupnya sedangkan Dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi NTB tahun anggaran 2017 yang sebesar Rp 5 triliun hanya 1 miliar digunakan untuk meretas kemiskinan, anggaran 1 miliar itupun tidak serta merta digunakan untuk program yang langsung menyentuk masyarakat.

Hemat saya hal itu tidak berbanding lurus dengan visi TGB-Amin pada saat Pilkada 2013 lalu, "NTB Yang Beriman, Berbudaya, Sejahtera Dan Berdaya Saing” maka dalam meningkatkan mutu sumber daya manusia yang berdaya saing lewat pelayanan pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial yang berkualitas hal itu sangat jauh dari harapan, dalam kebijakan Anggaran pun masih jauh dari rasa keadilan salah satunya adalah kebijakan anggaran untuk pembangunan dan kesejahteraan di Pulau Sumbawa.

Ali Bin Abi Thalib pernah mengatakan "Seandainya Kemiskinan itu berwujud manusia, pasti aku akan membunuhnya" Sayangnya bukan, kemiskinan ada dalam berbagai jenis virus yang memerlukan obat khusus. Apa iya Solusi tercepat penyelesaian kemiskinan adalah dengan membunuh semua oran miskin. (ini sekedar lucu-lucuan). 

Kalau katanya Said Muniruddin virus kemiskinan itu ada dalam tiga wujud, namun yang paling mematikan adalah virus kemiskinan struktural.  virus ini berupa tindakan Korupsi, inefisiensi, infrastruktur yang tidak memadai, dan ketidakadilan merupakan bentuk-bentuk kemiskinan yang dibangun oleh birokrasi. 

Gubernur NTB yang bertindak sebagai perumus kebijakan, eksekutor anggaran dan pengawas pembangunan sering gagal melaksanakan tupoksinya. Maka bunuh saja segelintir eksekutif, legislatif, dan birokrat yang melakukan kejahatan itu, insya Allah kemiskinan akan selesai. Itu kalau ide bunuh-bunuhan mau dilaksanakan, maka harus dimulai dari level pemegang otoritas kekuasaan.

Sebagai penutup saya berharap TGB sebagai pemimpin di NTB ini harusnya bertindak sebagai dokter yang mampu mendiagnosis berbagai virus kemiskinan, serta mampu meracik obat yang tepat untuk menyembuhkannya. (**)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.