Semangat 72 Untuk Pileg 2019 - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Semangat 72 Untuk Pileg 2019



Oleh: Satria Madisa

Peristiwa 72 memberikan andil yang besar untuk Dou Donggo Umumnya Bima. Diskriminasi pembangunan yang ditandai diskriminasi politik, sosial, dan budaya dalam sejarah peradaban Bima lengser karna pergolakan  rakyat. Anarkisme kolektif  tersebut telah menumbangkan rezim fasis Suharmajid sekaligus menebarkan aura positif  Dou Donggo sebagai pelaku dan tumbal reformasi di Indonesia timur.

Akses pendidikan, infrastruktur, dan psikologi Dou Donggo bertransformasi dengan cepat. Di sisi lain Stigma bahwa Dou Donggo primitif  (buta huruf) dan terbelakang (orang gunung) mendapatkan bantahan ilmiah.

Peristiwa besar tersebut harus berani ditafsirkan dengan kebutuhan zaman. Kebutuhan akan perubahan dan kemajuan dengan menggali pesan subtansinya. Khususnya untuk generasi milenial. Karna sejarah tidak boleh larut dalam teks-teks.
“Matahari tidak boleh berlalu tanpa makna”.

Dalam teori perubahan sosial bisa kita ukur indikatornya. Diantaranya  Ide dan gagasan, Alat, gerakan sosial (Sosial movement) dan jaringan. Disini anak muda harus mampu membaca “ gambar besar” dalam bahasa lainnya tuntutan sistem. Terkonfirmasi realita politik bahwasanya interkoneksi dalam sistem pemerintahan harus mendapatkan panggung.

Ikhtiar kolektif  kita semua akan mengarahkan posisi kita kedepan. (Baca realita). Memang benar adanya bahwa mengabdi pada daerah bisa kita lakukan dengan menjadi penjual sayur, petani jagung, dan semacamnya. Penulis tidak disekolahkan dengan politik. Kembali pada “gambar besar” bahwa kita tidak sedang mengusahakan kepentingan individu tapi kepentingan daerah dan jangka panjang. Pembaca yang budiman bisa menilai dan menakar dengan sudut pandang masing-masing.

Platform 72 untuk 19 sebuah diskursus
Peristiwa 72 harus ditafsirkan ulang. Menafsirkan dengan kebutuhan daerah terhadap perubahan yang harus disambut oleh kaum intelektual, pemuda dan mahasiswa. Optimisme generasi harus mendapatkan panggung.

Pertunjukan gerakan 72 “cita rasa” milenial harus jadi arus utama cara pikir dan cara kerja untuk kemajuan daerah.  Kita memiliki sederet kaum intelektual dengan label Magister dan Doktor yang terkoneksi dengan puluhan ribu mahasiswa yang tersebar di pelosok nusantara dan potensi Anarkisme kolektif  jilid III terbuka lebar. Bukankah Peristiwa Donggo 72 hanya di inisiasi oleh kesadaran kreatif dari minority kreatif ?.

Dengan Jumlah DPT sekitar 20.000 di Kecematan Donggo dan Soromandi belum lagi yang tersebar di Kabupaten Dompu dengan basis terbanyak manakala terkomunikasikan dengan baik sekiranya bisa menjadi bassis awal untuk sampai pada tujuan. Ikhtiar kolektiflah yang mengintegralkan potensi tersebut. Bicara figur atau ketersediaan sumber daya manusia yang punya kompetensi sekiranya bisa kita lihat sendiri.

Testimoni
Masyarakat punya indikator dalam menakar potensi figur. Kita memiliki SDM yang mempuni, anak muda yang bervisi besar serta teruji. Tentu uji kelayakan publik masyarakatlah yang menilai.
“ Jika anak muda paham medan tidak mendapatkan panggung maka para banditlah yang mengisinya”.

Seleksi kelayakan harus melibatkan anak muda sebagai struktur dan kultur gerakan sosial. Apakah kita memilih pesimis ?
Perhitungan awam penulis bahwa Dua Kursi di DPRD Propinsi dengan ikhtar bersama berpotensi di isi oleh dua  figur terbaik. Belum lagi untuk DPRD  Kabupaten Bima dan Dompu.

Disini dibutuhkan integrasi kepentingan dengan konsep sadar diri dan sadar medan. Antara kapasitas dan keinginan, kepantasan dan kelayakan bisa kita lihat secara bersama-sama. Kita harus banyak belajar pada fakta masa lalu termasuk kultur yang menghalangi kemajuan daerah. Antara pikiran besar dan pikiran dangkal harus berani kita bedakan. Semoga 2019 milik kita.

“Ditulis dalam keadaan Gembira”

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.