Fahri Hamzah : Peristiwa Donggo 1972 Itu Sikap Oposisi Masyarakat - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Fahri Hamzah : Peristiwa Donggo 1972 Itu Sikap Oposisi Masyarakat

Bima, KB.- Peristiwa tahun 1972 yang terjadi di Kecamatan Donggo Kabupaten Bima masih terus dikenang oleh masyarakat setempat sampai sekarang. Yakni peristiwa perlawanan masyarakat yang menuntut keadilan terhadap kebijakan pemerintah saat itu.

Fahri Hamzah.
Hal disampaikan oleh Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah dalam sebuah acara diskusi pada acara Ngopi Bareng Bang Fahri di Falcao Cafe  Kota Bima, Selasa (24/07/2018) malam. Yang juga Anggota DPR RI, H. M. Syafruddin ST MM serta ratusan warga yang tergabung dalam sejumlah elemen masyarakat.  

Dikatakannya dalam sejarah tersebut tercatat masyarakat Donggo menentang tindakan diskriminasi serta pengerusakan lingkungan yang dilakukan oleh Pemerintah dibawah kepemimpinan Bupati Bima saat itu Suharmaji.

“Hingga sekarang peristiwa sikap oposisi terhadap kekuasaan ini masih diperingati oleh masyarakat Donggo. Sebuah sikap pertentangan terhadap pelanggaran kebenaran,” katanya.

Menurutnya, dalam kisah itu ada lima tokoh berjuang bersama masyarakat. Hanya saja mereka ditangkap dan diadili di Bali. Sayangnya empat tokoh diantaranya sudah meninggal dunia dan hanya satu orang yang masih hidup. 

“Tokoh itu bernama H. Abbas H. Oya, usianya 72 tahun. Saya sendiri sudah berkunjung ke rumahnya. Tokoh ini meminta kita semua harus bersatu membangun negara agar lebih baik,” katanya.

Ketua Lasdo Arifin J. Anat menganugerahkan gelar kehormatan dengan
memberikan kain tenun khas Donggo berwarna hitam kepada Fahri Hamzah
Fahri menilai peristiwa Donggo 1972 itu, merupakan ciri khas karakter masyarakat Bima khususnya di Pulau Sumbawa. Yang terus mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro masyarakat. 

“Inilah ciri khas karakter masyarakat Bima umumnya Pulau Sumbawa. Sampai kapanpun dan dimanapun akan terus melawan demi mempertahankan idealisme dan cita-cita bersama,” katanya.

Bahkan menurutnya, sikap opisisi masyarakat Donggo waktu itu menjadi awal munculnya reformasi, karena pertama kali ribuan massa  munculnya untuk Demonstrasi dan melawan pemerintah.

Fahri mengajak semua pihak agar terus mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat. Sebab baginya, sebuah negara tidak akan maju dan berkembang tanpa ada yang mengkritik. 

“Kita keras mengkritik karena kebenaran. Jadi jangan pernah berhenti mengkritik untuk meluruskan yang salah,” katanya. (KB-01)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.