Pacuan Kuda dan Joki Cilik Dihilangkan, Irfan : Saya tantang, sejak kapan Gubernur main kuda - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Pacuan Kuda dan Joki Cilik Dihilangkan, Irfan : Saya tantang, sejak kapan Gubernur main kuda

Kota Bima, KB.- Tradisi pacuan kuda menggunakan joki cilik di Bima disoalkan, karena adanya insiden kecelakaan kuda hingga mengakibatkan joki meninggal dunia, Masyarakat pecinta kuda pacuan tradisional di Bima tidak akan tinggal diam, apabila pacuan kuda menggunakan joki cilik dihilangkan oleh Pemerintah setiap kejuaraan, 

Irfan,  (bertopi) 
"Kami masyarakat pecinta kuda pacuan tradisional di Bima akan bereaksi dan tidak akan tinggal diam, kalau tradisi dan budaya leluhur ini dihilangkan atas pertimbangan kematian salah satu joki cilik kemarin," jelas salah satu pemilik kuda pacuan Irfan asal Kota Bima Minggu (20/10).

Dia mengaku, pacuan kuda tradisional menggunakan joki cilik, dikenal sejak kecil, karena itu dilakukan oleh orang tua dan kakeknya sejak itu, sehingga saat ini, dia mengakui memahami secara utuh tradisi dan budaya Bima ini. 

"Pacuan kuda menggunakan joki cilik bukan spontanitas terjadi baru ini, dari masa ke masa anak kecil tetap digunakan sebagai penunggang kuda," kata dia. 

Kata dia, keterlibatan anak kecil saat ini pada pacuan kuda, itu memiliki sejarah yang jelas dalam peradaban dana Mbojo, bukan hanya karena hobi, orang bima dan kuda menyatu sejak dulu, 

"Pacuan kuda dan anak sebagai jokinya sudah menjadi warisan budaya yang langka, tidak ada di tempat lain," kata dia. 

Kata dia, pacuan kuda jangan dilihat dari satu aspek kehidupan saja, apalagi ingin dibahas untuk ditiadakan karena pertimbangan melibatkan joki cilik dan diasumsikan eksploitasi anak. 

"ingin hilangkan pacuan kuda dengan alasan eksploitasi anak, itu pandangan yang keliru, karena banyak aspek kehidupan masyarakat yang diuntungkan, anak tetap diutamakan disisi pendidikan," kata dia. 

Ditanya tanggapan soal pernyataan Gubernur NTB mengatakan joki cilik adalah kebanggan yang keliru, Irfan justru tidak menerima, sebab itu bukan hanya terjadi saat ini, bahkan seorang Gubernur NTB saat ini sudah lama menggemari hobi ini dan menggunakam joki cilik sejak dulu dengan belasan kuda pacu yang dimiliki. 

"Sejak kapan Gubernur NTB menggemari pacuan kuda tradisional ini, jangan politisir kasus ini untuk mengamankan diri dari posisi jabatan," jelas dia. 

Dia mengaku, kalau pacuan kuda tradisional Bima menggunakan joki cilik dipersoalkan, masyarakat Bima memiliki kuda pacuan akan mengambil sikap mempertahankan nilai luhur budaya ini. 

Sementara pemilik kuda asal Kecamatan Sape Kabupaten Bima Rukmini, mengatakan, pacuan kuda sudah menjadi tradisi yang melekat dengan kehidupan masyarakat Bima, masyarakat pengangguran mendapatkan pekerjaan dan digaji dengan memelihara kuda. 

"Ribuan masyarakat pengangguran dikerjakan melalui event pacuan kuda, tiga orang pengangguran digaji mengurus satu ekor kuda, kalau dihilangkan, apakah Pemerintah mampu mengganti rugi dan menyediakan lapangan pekerjaan," kata dia. 

Menurut dia, sebagai langkah antisipasi adanya penggangguran, menurut dia, Pemerintah seharusnya mendorong tradisi pacuan kuda ini untuk lebih berkembang lagi, untuk mengurangi angka pengangguran. 

"Aspek ekonomi masyarakat banyak dihidupkan dari berkuda, kesejahteraan masyarakat meningkat karena joki cilik ini, ini semua lahir dari tradisi pacuan kuda," kata dia. 

Dirinya siap hadir bersama kuda, pemelihara kuda dan joki di Kantor Pemerintah Kota Bima dan Kabupaten Bima untuk mendesak Gubernur NTB. (KB-07)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.