Diduga Sumarno Menyerobot Pekerjaan PT Bumi Palapa Perkasa - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Header Ads

Diduga Sumarno Menyerobot Pekerjaan PT Bumi Palapa Perkasa

Bima, KB.- Pekerjaan proyek DI Pelaparado senilai Rp. 22,2 Miliar diduga diserobot pihak lain yang bukan pemenang tender. Bola liar terkait pekerjaan tersebut rupanya masih belum selesai. 

Direktur PT Bumi Palapa Perkasa, Agus Supriyono.


Direktur PT Bumi Palapa Perkasa, Agus Supriyono mengatakan, aktivitas Sumarno tidak dilegalkan secara hukum apabila mengatasnamakan PT Bumi Palapa Perkasa. Pasalnya, akta pendirian cabang perusahaan tersebut sudah dicabut tertanggal 25 Maret lalu.

"Berdasarkan akta pendirian cabang Kota Bima, Nusa Tenggara Barat atas nama Sumarno, dengan nomor:  06 tanggal 13 Januari 2021, Notaris Arfin Bahter SH., M.Kn telah di Cabut berdasarkan akta Notaris  Nomor: 17 tanggal 25 Maret 2021 pada Notaris Ni Putu Rediyanti Shinta SH M.Kn," ujarnya, kamis 22 April 2021.

Selain menyerobot pekerjaan bernilai puluhan miliaran itu, Sumarno juga diduga memalsukan dokumen. Pasalnya, tindakan yang dilakukan pihak terduga tanpa sepengetahuan pimpinan umum perusahaan.

"Dokumen-dokumen juga dipalsukan termasuk tanda tangan," sebutnya.

Agus menegaskan, terkait pekerjaan proyek itu dikerjakan sendiri PT Bumi Palapa Perkasa tanpa menunjuk Kepala Cabang. Diluar dari yang dikerjakan oleh Tim PT tersebut dikatakan cacat secara hukum atau ilegal. 

"Dari pertemuan tadi sudah dihadirkan TNI polri dan muspika setempat. Dan itu Legal kita yang mengerjakan. Sudah saya jelaskan secara rinci dan sudah diketahui semua pihak terkait pekerjaan ini," tutur laki-laki berdarah Sulawesi itu.

Pada proses pekerjaannya ia berharap kepada anggotanya dilapangan untuk tetap teliti. Dan selalu membangun komunikasi yang baik dengan setiap elemen yang ada.

"Saya harapkan hasilnya nanti dapat bermanfaat untuk warga setempat. Apalagi ini perjuangan kita cukup berat. Semoga hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Saya sampaikan ke teman-teman yang dilapangan agar lebih cermat dalam bekerja. Dan hasilnya sesuai yang kita inginkan bersama. Tentu selalu membangun komunikasi baik dengan siapapun," urainya.

Sementara itu, dirinya mengaku tidak mengenal sosok Cheng Si. Yakni orang yang disebut-sebut sebagai pekerja pekerjaan tersebut. 

"Saya tidak kenal Cheng Si, yang saya kenal Hanya Sumarno. Makanya saya bingung juga kenapa info yang naik ini soal Cheng Si. Dan alat-alat yang ilegal akan kita keluarkan. Agar pekerjaan ini juga lancar. Dan kita akan kerjakan dengan alat-alat kita sendiri. Apapun yang dilakukan oleh Sumarno di lapangan itu ilegal jika membawa nama PT Bumi Palapa Perkasa," tegasnya.

Terkait surat izin yang katanya sudah dikantongi Sumarno, dirinya mengaku tidak mengetahui hal itu. Karena PT Bumi Palapa Perkasa tidak pernah mengeluarkan surat ijin pekerjaan selain kepada pihaknya sendiri dan terlebih lagi pihak BWS tidak pernah mengeluarkannya selain kepada pihak pemenang tender.

"Surat ijin pekerjaan itu bukan saya yang keluarkan yang dari Sumarno itu. SPMK yang kita pegang ini surat perintah kerja secara keseluruhan. Tidak ada ijin resmi yang mereka pegang, itu hanya ijin parsial. Pihak BWS pun mengaku tidak pernah mengeluarkan surat ijin pekerjaan. Bahkan mereka bilang itu izin yang dikeluarkan oleh mereka sendiri dilapangan," jelasnya.

Dia kembali menegaskan, jika pihak sebelah masih ngotot melakukan pekerjaan. Maka dirinya tidak segan-segan untuk melaporkan dugaan penyerobotan.

"Ketika besoknya masih melawan. Kita akan melaporkan penyerobotan. Dan jika masih belum bisa diselesaikan disini,  maka kita akan sampaikan di Polda juga. Karena tadi kita udh sampaikan dengan baik-baik. Seperti yang saya sampaikan tadi kalau dikatakan penyerobotan memang sudah dikatakan penyerobotan, tapi kita masih punya niat baik untuk komunikasi baik-baik, jika tidak diindahkan, maka kami akan mengambil langkah tegas," tandasnya.

Ia kembali menegaskan, sebelumnya pun sudah bangun komunikasi baik-baik. Namun, Sumarno masih menganggap Akta masih sebelumnya berlaku. Tapi secara hukum Akta yang sebelumnya diterbitkan untuk Sumarno sudah  dicabutkan secara hukum juga.

"Maka secara hukum juga Akta itu sudah tidak berlaku lagi. Adapun jika dia keberatan, kami sudah menyampaikannya untuk menempuh jalur secara hukum juga. Dan kami siap untuk menghadapi secara hukum pula. Tadi kita sudah menegaskan bahwa hanya PT Bumi Palapa Perkasa yang mengerjakan pekerjaan ini tanpa ada pihak lain selain itu. Dan itu legal secara hukum dan administrasi. Karena Sumarno sendiri sudah kita anggap tidak ada," tegasnya lagi.

Pada saat Agus turun langsung dilokasi pekerjaan, ia sudah melakukan pertemuan dengan semua pihak terkait. Termasuk juga mengundang Sumarno, namun tidak menghadiri pertemuan.

"Pada pertemuan tadi kami sudah mengundang semua pihak-pihak terkait, namun Sumarno sendiri yang tidak hadir. Dan saya hanya kenal Sumarno saja, saya tidak kenal Cheng si. Sumarno tidak muncul sampai pertemuan kita selesai. Walau sebelumnya sudah kita undang dan ditelpon juga oleh aparat tidak datang juga dan tidak angkat telepon. Artinya mereka ini tidak ingin ingin menyelesaikan masalah ini. Mereka selalu menghindar untuk menyelesaikan masalah ini," bebernya.

Dia menambahkan, untuk proses pekerjaannya akan diperdayakan SDM lokal. Hal itu sesuai dengan kontrak kerja yang termuat dalam pekerjaan tersebut.

"Jelas kita perdayakan warga setempat untuk dalam hal proses pekerjaannya. Karena amanah dalam kontrak kerja pun demikian.  Didalamnya disebutkan untuk menggunakan padat karya, artinya kita perdayakan local semuanya, terlebih soal Sumber Daya Manusianya (SDM). Kita tetap pake lokal semua, murni lokal semuanya," tutupnya. 

Sementara Sumarno yang coba dilakukan konfirmasi melalui telepon seluler masih belum bisa didapatkan tanggapannya. Hingga berita ini dinaikkan. (KB-07)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.