Kilas Balik Pengabdian Pemuda : Sebuah Narasi Pembangunan Era Milenial - Kabar Bima

Kilas Balik Pengabdian Pemuda : Sebuah Narasi Pembangunan Era Milenial

Oleh : Adi Ardiansyah, 
Presiden Mahasiswa UMMAT 2017/2018.

Memasuki usia yang terbilang matang, ikrar sumpah pemuda kini bukan lagi simbol tanpa makna karena dari ikrar tersebutlah terminologi persatuan lebih awal diretas oleh kaum muda. Konsensus Pemuda 90 Tahun yang lalu telah meruntuhkan dinasti perkotak-kotakan, dari mempertahankan ego sektoral bahkan hingga ego struktural.

Tiga item yang menjadi label dan identitas pemuda mengikat asa dan cita-cita yang sangat mulia, bersatu atas nama tanah air tercinta, bersatu atas nama Bangsa, dan bersatu atas nama Bahasa. Sebagaimana yang kita ketahui secara bersama, karakteristik Bangsa Indonesia yang plural dengan berbagai macam jenis dan ragam suku, budaya, adat dan bahasa pun mampu disatukan lewat sebuah narasi kebangsaan lintas massa.

Sebuah kilas balik untuk merefleksi sejauh mana cita-cita dan kemurnian perjuangan pemuda hingga hari ini yang tetap dijaga secara konsisten untuk mengawal dan memplopori gerakan-gerakan pembangunan. Tentu bukan hanya gerakan simbolik, tetapi lebih kepada gerakan Humant Devlopment. Membangun kesadaran secara kolektif ditengah arus hegemoni budaya yang kontrakdiksi dengan moral dan karakter kebangsaan Indonesia.

Ironi sosial tidak lagi mampu memanipulasi fakta, bahwa pemuda diharapkan menjadi harapan terakhir ditengah redupnya nurani sosial. Karena itulah, pemuda harus berani dan tegas muncul ke permukaan untuk menyuarakan yang benar dan salah. Prinsip keteguhan mesti terpatri dalam sanubarinya, tidak hanya diucapkan oleh lisan yang sering berdusta, tetapi gerakan real lapangan itulah yang ditunggu oleh publik. 

Bukankah momentum Sumpah Pemuda ini sebagai reflkesi panjang dari pengabdian ? Iya, kita telah sepakat bahwa sudah tidak ada perdebatan lagi mengenai persatuan, apalagi dikalangan pemuda karena sejarah tidak bisa membohongi dirinya. Sebelum Bangsa Indonesia merdeka pun, pemuda lebih dahulu menyatakan sikap persatuannya.

Tidak hanya itu, bukti bahwa pemuda mengaktualisasikan dirinya untuk bersatu adalah gerakan-gerakan nyata untuk memperjuangkan Kemerdekaan dari hulu hingga ke hilir, kita mengenal beragam sosok pemuda yang penuh inspiratif pada massanya Soekarno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka dan lain-lain. Mereka merupakan anak muda agresif, cerdas dan solutif yang mengambil peran penting dalam dinamika kebangsaan. Oleh demikian, generasi milenial pun hari ini harus mampu memformulasikan sebuah karya atas pengabdiannya pada Bangsa dan Negara, dimulai dengan ijtihad gerakan yang senantiasa berorientasi pada kemajuan kualitas manusia di Indonesia. 

Maka pemuda diharapkan mampu menjadi icon change dari realitas, apalagi ditengah kondisi kebangsaan yang kian memprihatinkan, isu ingin mengadudomba (Devide et impera) kian nyata oleh visual kita semua. Karenanyalah pemuda, mesti mampu mempertegas bahwa keutuhan narasi kebangsaan akan tetap solid, dijaga dengan argumentasi dan gerakan yang nyata. 

"1000 orang tua hanya bisa bermimpi, namun 1 anak muda bisa mengubah Dunia".

"Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh anak muda, jika anak muda mati rasa, maka matilah bangsa itu". (***)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.