Guru, Terima Kasih Tanpa Batas - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Guru, Terima Kasih Tanpa Batas

Oleh:
M. ISLAMUDDIN
(Alumni STKIP Bima, Jurusan Bimbingan dan Konseling)
Guru itu mulia. Berkat guru orang bisa sukses. Bahkan, seseorang bisa melanggeng jadi Presiden tidak terlepas dari sentuhan sang guru. Maka tidak berlebihan jika guru disebut profesi yang paling mulia.
Guru memiliki kedudukan tertinggi di mata para peserta didik. Tak heran jika orang sukses terus mengenang jasa guru. Pengajaran tetap dingat. Ilmunya diamalkan.

Islam menempatkan guru sebagai orang yang memiliki derajat yang tinggi. Allah SWT berfirman, ”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Mujadalah: 11).
Guru adalah orang yang berilmu. Dan orang yang berilmu itu memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Jadi, memiliki ilmunya saja ia sudah memiliki kedudukan yang tinggi, apalagi yang dilakukan oleh guru, yakni mengamalkannya. Itu akan lebih meninggikan kembali posisinya dalam Islam.
Rasulullah SAW bersabda, ”Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari al-Quran dan mengamalkanya,” (HR. Bukhari).
Meski guru pekerjaan yang sungguh mulia, tapi beragam persoalan dihadapi seorang guru. Terutama dalam menghadapi anak didiknya yang nakal dan malas.
Guru akan berusaha mencari jalan keluar untuk merubah perilaku anak didiknya. Sudah pasti membawanya kearah yang lebih baik dengan beragam metode yang diterapkan. Ada yang keras dan ada yang santun.
Keras bukan berarti memukul atau mencubit, atau lainnya. Keras dalam artian mendidik dengan kasih sayang agar anak didiknya bisa merubah diri.
Terkadang ada juga yang menanggapi berlebihan didikan guru. Terutama bagi guru yang suka mendidik dengan cara sedikit keras. Misalnya memukul bagian tubuh siswa. Padahal, tak ada niat dari guru untuk menyakit anak didiknya. Mereka memukul hanya ingin merubah sikap anak didiknya kearah yang lebih baik. Sekali lagi, kearah yang lebih baik.
Jika dulunya, memukul dan memarahi anak didiknya hal biasa. Orang tua mereka juga akan terima, karena mereka sadar telah menyerahkan anaknya untuk dididik. Dan tak ada guru yang ingin anak didiknya berkelakuan tidak baik dan tidak cerdas. Guru semata-semata mendidik itu hanya untuk memintarkan anak didiknya, agar cita-cita mereka bisa diraih.
Tapi, beberapa peristiwa kelam dihadapi guru belakangan ini. Ada beberapa guru yang harus berhadapan dengan hukum. Gara-gara memukul atau mencubit anak didiknya, mereka harus rela tidur dibalik jeruji besi.
Baru-baru ini seorang guru SMPN 1 Bantaeng, Nurmayani Salam harus mendekam di penjara Mapolres Bantaeng. Ia dibui karena mencubit siswanya.
Nurmayani dilaporkan ke polisi oleh orangtua siswa hanya karena perbuatannya tersebut. Akibatnya Guru Biologi tersebut mengalami stres  berat. Juga penyakit diabetes kering yang dialaminya kambuh.
Pihak keluarga Nurmayani sudah mengajukan permohonan maaf dan damai atas kasus sepele yang terjadi di bulan Agustus 2015 lalu itu. Namun, tidak di respon oleh keluarga siswa.
Saat ini, Nurmayani masih mendekam di Polres Bantaeng. Sejumlah pihak menuntut agar kasus yang menimpa Guru Biologi tersebut diselesaikan secara kekeluargaan.
Tapia apa mau dikata, keluarga siswa itu tidak mau terima. Mereka tetap memroses guru tersebut secara hukum. Guru berduka. Bukan hanya Nurmayani, tapi semua merasakan duka.
Kasus Nurmayani memberikan isyarat bagi para guru-guru untuk berhati-hati dalam mendidik siswa. Jika tidak, urusannya akan panjang. Nanti dipersoalkan lagi. Dibawa ke ranah hukum pula.
Atas nama kekerasan anak, guru yang menyentil siswanya akan diseret ke meja hijau. Akibatnya, akan muncul sikap apatis dari guru. Mereka akan mengajar hanya sebatas memenuhi kuota jam mengajar saja. Jika seperti ini, generasi bisa rusak. Tapi, mudah-mudahan tidak ada guru yang seperti itu.
Kejadian yang hampir sama pernah terjadi di NTB. Tepatnya di Kota Bima. Seorang guru yang mengajar di salah satu MTSN Kota Bima dipukul muridnya.
Itu gara-gara ditegur lantaran ribut saat proses belajar mengajar. Siswa tersebut sempat ”dicubit”. Rupanya siswa itu tidak terima, dan mengadukan ke orang tuanya.
Keesokan harinya, orang tua siswa tersebut datang ke sekolah dengan penuh amarah. Mencari guru tersebut. Akhirnya bertemu. Guru itu sempat dimarahi.
Dan menyedihkan lagi, guru tersebut dipukul siswa tersebut di depan orang tuanya. Di depan guru juga. Ternyata, di depan siswa lain pula.
Guru itu hanya bisa minta maaf. Menyadari kesalahannya. Namun, orang tua si murid itu tetap tidak terima dan akan memperkarakan secara hukum. Tapi, untungnya gertakan itu tidak terjadi. Guru itu selamat dari kamar berdinding terali besi.
Sungguh ironi nasibmu guru. Padahal, engkau pahlawan. Pahlawan tanpa tanda jasa. Memang tanpa tanda jasa. Tapi, yakinlah tidak semua melupakan jasamu. Suntikan ajaranmu akan dikenang. Didikanmu akan mengalir deras dalam nadi anak didikmu.
Sebuah kisah nyata menggambarkan bahwa guru itu mulia. Dikutip dari emirates247.com. Seorang hakim di Yordania mencengangkan publik. Ini lantaran dia mencium tangan seorang terdakwa. Ternyata orang yang akan disidangnya adalah mantan gurunya sewaktu duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
Sang guru diadukan ke pengadilan oleh ayah salah satu muridnya. Guru tersebut dituduh telah memukul muridnya. Awalnya, hakim tersebut mengira terdakwa adalah orang lain, yang kebetulan memiliki nama sama dengan mantan gurunya. Tetapi, pandangan tersebut berubah ketika terdakwa dibawa masuk ke ruang persidangan.
Melihat terdakwa, sang hakim langsung terdiam. Beberapa saat kemudian dia membuat seluruh hadirin tercengang.
Hakim tersebut berdiri, turun meninggalkan kursinya dan menghampiri terdakwa. Di depan terdakwa, hakim itu berlutut dan mencium tangannya.
Terdakwa pun kaget dengan tindakan hakim tersebut. Lantas sang hakim menjelaskan terdakwa adalah guru yang mengajar dia waktu masih duduk di bangku SD.
Ketika hakim melihat terdakwa, dia menghampiri, mencium tangan dan berkata, ”Ini adalah bentuk pengormatan saya kepada Anda, guru saya,” kata hakim itu.
Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita, betapa besar pengorbanan seorang guru. Karena, mereka yang telah mengantar kita pada lubang kesuksesan. Menjadikan kita seorang presiden, wakil presiden, menteri, gubernur, bupati, pengusaha, hakim, polisi, jaksa, pengacara, wartawan, dan profesi lain.
Jangan pernah melupakan jasa guru, walau mereka memang pahlawan yang tak diberikan penghargaan.  Tapi, mereka adalah pahlawan yang membawa kita pada kesuksesan. Guru, Kau Pahlawan Pendidikan. Pahlawan yang akan selalu dikenang. Terima Kasih Tanpa Batas Dari Kami. (*)

1 komentar:

  1. Luar biasa. Tulisan yg mengingatku pada sosok hebat yg pernah mendidikku dulu.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.