Peneguhan Komitmen Kultural, Restorasi Pemuda Donggo - Kabar Bima - Portal Berita Bima Terbaru

Peneguhan Komitmen Kultural, Restorasi Pemuda Donggo


Oleh: Satria Madisa

"Kebun bunga, bisa saja dibakar oleh para perompak, tapi tidak bisa menunda musim semi hadir". Rocky Gerung.

Ada slogan yang mengatakan "setiap masa ada orangnya dan setiap orang ada masanya". Setiap zaman memiliki tantangan yang berbeda dengan semangat dan patriorisme yang berbeda pula.  Argumentasi ini, relevan dengan konsep kepemudaan. Ali Syariati pernah mengatakan bahwa manusia yang baik manakala dia bisa membentuk sejarah dan peradaban bukan terbentuk dari peradaban. Konsepsi Ali Syariati relevan, kontekstual, dan berdasarkan kebutuhan zaman "Mahasisw milenial" bahwa, pemuda harus membangun diskursus zamannya sebagai pintu masuk peradaban. Masuk dipintu perdaban sebagai medium penegasan literasi pemuda dalam mewujudkan peradaban dan sejarah.

Secara kultural donggo terbentuk atas sejarah dan peradaban tempo dulu. Begitu banyak narasi peradaban sejarah "papan nama" yang dihasilkan oleh kultur kita. Semacam menampilkan ketokohan hanya dengan modal foto selfi dengan pejabat tinggi negara bahkan artis ibu kota. Generasi muda harus membangun resistensi pengkultusan ketokohan, didukung dengan narasi intelektual, bagaimana format alternatif kesejatian dari tokoh. Uvoria berkepanjangan terhadap
ritme pergolakan "Dou Donggo" sudah seharusnya digeser pada tataran orientasi dan refleksi bagi pemuda. Pilihan ini lebih ideal dan realistik daripada dijadikan jargon dan kebanggan Historis yang temporal. Resistensi "asal tokoh" dari pemuda harus menjadi idiologi anak muda berkiprah. Tentu tanpa harus menyandra kepentingan kultural yang sedang diwujudkan.

Donggo sebagai entitas kultural yang berbasis kesukuan yang mendiami  Bima dan Dompu harus mengkonsepkan satuan pikiran dan kerja yang terkoneksi antara sruktural dan kultural. Prosesnya panjang?. Iya, tapi harus dimulai!. Sebagai entitas kultural menjadi keharusan, kita kritis terhadap kultural tanpa mati kutu dalam kerja struktural. Proses koneksi antara kultur dan struktural tidak bisa dilakukan oleh hanya satu pikiran, melainkan kerja kolektif kita bersama. Itupun jika argumentasi kemajuan Donggo adalah tujuan dari spirit kiprah. Baik itu Kaum akademik, politisi, dan mahasiswa.

Sebagai entitas kesukuan tentu Donggo bisa ditelaah dari berbagai macam perspektif. Perspektif devinisi, teritorial, dan juga etnik. Dalam tulisan ini, fokus telaah pada tataran budaya dan sejarah. Termotivasi pada realitas Donggo hari-hari ini yang ter-freming membangun peradaban nama. Penulis harus terbuka bahwa harapan yang ingin tersampaikan dalam tulisan ini, bisa tumbuh narasi visioner dari cara kita memahami dua hal tersebut (sejarah dan budaya). Karena hijrah pemikiran tekstual ke kontekstual kebutuhan kolektif kita hari-hari ini, untuk masa depan yang lebih baik.

Donggo dilihat dari sejarah dan budayanya, merupakan potret yang unik dan memiliki ciri khas, seperti kebiasaan yang hidup (adat), tentang budaya silatuhrahmi, solidaritas, dan pluralitas. Dalam sejarah "Donggo" semacam kontributor narasi sejarah bima. Perlawanan terhadap kolonialisme Belanda (1908-1910) yang populer disebut perang kala, dengan skema perang adat bergejolak di Donggo. Begitupun dengan perlawanan terhadap rezim orba (1972) yang menurut hemat penulis Ikhtiar memulai reformasi di Indonesia Timur. Tepat dua tahun sebelum peristiwa Malari.

Dewasa ini, pola generasi dalam membaca sejarah dan kebudayaanya terfreming dengan pengkultusan semata. Generasi muda seolah-olah mengikuti cara kerja tokohnya yang membangun peradaban "papan nama". Menurut penulis, keharusan kita memahami sejarah, dan budaya kita tapi tidak mencerahkan dan mendidik manakala sejarah dan budaya dikultuskan. Pemuda Donggo seyogyianya harus berani "hijrah pemikiran". Menggeser paradigma dan mengkondiskikan dengan semangat zamannya.

Kita hidup diera yang sangat kompetitif, ditengah pemerintah daerah yang multiselera dalam menakar pikiran dan kue pembangunan daerah. Dan ditengah menguatnya optimisme generasi merebut optimisme. Pembangunan Donggo dimasa depan tidak cukup hanya modal buku sejarah 1972 dan pengkultusan papan nama. Tidak boleh tidak "restorasi pemuda" harus dihadirkan sebagai resistensi pengkultusan ketokohan, sekaligus resistensi terhadap pemerintah daerah yang tebang pilih. Restorasi sebagai konsep pembaharuan dengan pendekatan nalar dalam usaha bersama membangun Donggo. Membangun dengan pikiran dan kualitas sumber daya manusia.

Identitas kedonggoan hari-hari ini mulai terkikis, label perbedaan wilayah administratif Bima dan Dompu seolah-olah alasan pembenarnya. Terkikisnya platform kebudayaan dan persatuan Dou Donggo. Semacam miskomunikasi kultural yang secara tidak langsung ini menjadi alasan Pemda setempat untuk meminggirkan eksistensi "Dou Donggo" lewat skema Diskriminasi pembangunan. Terkonfirmasi dengan minimnya kesadaran pemudanya untuk mengontrol kinerja Pemda.

Peneguhan komitmen kultural dapat dipandang sebagai ikhtiar kolektif-kultural yang diwujudkan dengan sumpah primordial. Suatu ikhtiar mentauhidkan kesadaran kolektif yang diterjemahkan dengan membangun dan mengembangkan potensi diri untuk transformasi dan kemajuan daerah. Identitas yang diharapkan menjadi "embrio" lahirnya persatuan untuk membangun daerah serta platform melawan skema diskriminasi pembangunan. Ini bukan tampa dasar pertimbangan, ataupun konsep hampa makna. Kecematan Donggo dan Soromandi sangat kontras, diskriminasi pembangunan. Akses jalan masih banyak yang belum diaspal (Desa Kala, Doridungga, dan Punti). Ada yang bocor karena tidak bisa diberi pembalut, ada juga yang tidak pernah dijamah mulai dari lahirnya Bima sampai eranya Bima Ramah. Apalagi pasar rakyat yang seharusnya ada untuk mendongkrak produktifitas dan menggerakan perekonomian masyarakat setempat. Belum lagi, diskriminasi kebudayaan dan sejarah. Ada banyak tempat yang seharusnya bisa menjadi destinasi pariwisata bertakjub kebudayaan dan sejarah. Dan yang menurut saya yang cukup ekstrem bahwasannya, narasi pengembangan potensi dua kecematan tersebut absen dalam Rencana Pembangunan Jangka Menegah Daerah (RPJMD) data LKPJ Bupati Bima 2016-2017. 

Diskriminasi pembangunan secara teoritis-filosofis dan sosiologi-politik tidak senafas dengan semangat ontonomi daerah dan Sistem pemerintahan yang baik. Reformasi seharusnya berani membersihkan skema terbalik diskriminasi pembangunan daerah. Tentu, skema diskriminasi pembangunan bukan hal yang tabu yang hafus dirasa oleh masyarakat Donggo dan Soromandi. Setiap pergantian rezim pasti meninggalkan "kado buruk" itu. Disinilah pemuda sebagai minoritas kreatif, dan minoritas berkualitas harus hadir sebagai penyedia konsep, narasi, literasi, bahkan sampai pada pemimpin gerakan massa. Untuk menjawan skema diskriminasi pembangunan penulis menawarkan konsep Restorasi Pemuda Donggo.

Restorasi Pemuda Donggo adalah upaya membangun Daerah dengan menguatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Membangun Donggo dengan menjadikan Pemuda sebagai Icon dan eksekutor pembangunan. Mahasiswa Donggo harus ambil bagian dalam mengawal laju sejarahnya dan meneguhkan eksistensi sebagai Iron Stoke. Tentu ikhtiar menentang diskriminasi pembangunan harus dimulai oleh kita pemuda. Secara kuantitas dipenjuru Nusantara, pemuda dan mahasiswa donggo sangatlah banyak. Belum lagi akademisi, dan "POLITISI". 

Di Mataram saja Mahasiswa Donggo Sangat banyak. Dengan tiga organisasi paguyuban (Himasdom, HMDM, dan HIMSI) belum lagi di Makasar, Bima, Malang, Jogja dan Jakarta. Potensi kelembagaan yang banyak, dengan kualitas dan kuantitas basis dasar untuk upaya restorasi. Apakah ini mungkin?. Tentu kesadaran kita dalam memahami dinamika indikatornya. Menurut penulis sangatlah mungkin. Bahkan dengan potensi itu, kita adalah kekuatan yang besar. Tentu berbasis gagasan bukan otot, dan suara keras. Kuantitas harus dikonversikan menjadi sebuah kekuatan berbasis kualitas. Bagaimana metodenya?. Mahasiswa dan pemuda donggo semacam diharuskan membekali diri dengan pengetahuan dan penanaman kualitas diri. Secara individual maupun secara kelembagaan. Mahasiswa dan pemuda donggo harus belajar keluar dari zona kenyamanan. Keluar dari sekat administratif yang berbeda untuk ikhtiar pada tanah kelahiran. Ikhtiar membangun Daerah yang rindu pada pembangunan yang merata. Proses mematangkan kualitas tidak hadir diruang hampa harus ada energi besar dan semangat tinggi (animo) dan kebulatan tekad untuk kepentingan kultural berbasis kerja gagasan.

Perang Donggo, pergolakan 1972 adalah bukti sejarah bahwa gerakan kultural mampu menjadi amunisi yang efektif manakala diarahkan dengan baik. Pergeseran orientasi yang kemudian direfleksikan sekiranya bumbu menakar potensi gerakan kultural. Apalagi terkonfirmasi dengan kerja struktural berbasis gagasan dan literasi.

Peneguhan komitmen kultural restorasi pemuda donggo keharusan yang didukung fakta sosial yang terjadi dan akan terjadi pada daerah. Penguatan identitas kultural dengan kerja gagasan-struktural dan persatuan mahasiswa Donggo seluruh nusantara adalah satu-satunya kekuatan yang efektif untuk menenentang Diskriminasi pembangunan. Penulis optimis, kemajuan daerah akan kita jemput. Sebagai penutup tulisan ini, penulis menyarankan diri sendiri bahwasannya "daripada terlalu lama bernostalgia dengan sejarah, kita penting mendiskripsikan sejarah dan peradaban kita kedepan. Momentum menjemput tempat untuk kerja struktural akan sebentar lagi kita rayakan. Mari kita pastikan tempat itu untuk kita. Memilih dan memilah iyalah keniscayaan. Tapi tetap saja pemuda harus menawarkan platform bukan hanya berbeda, tapi kebutuhan daerah jangka panjang. Kita pasti bisa!.

Menunggu Musim Semi !.

Mataram (06/06/2017)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.